Server Primary Domain Controller Dengan OpenSuSE 10.2

Salah satu tahapan dalam proses migrasi sistem dari Windows ke Linux yang relatif mudah dilakukan adalah aplikasi Server. Jika kita masih menggunakan Windows Server bajakan, mengapa tidak menggunakan Server berbasis Linux ? Apalagi jika Windows Server bajakan hanya digunakan sebagai file server dan autentikasi user, sesuatu yang dengan mudah dapat dilakukan dengan Server Linux yang sudah dilengkapi dengan aplikasi Samba Server. Server autentikasi user atau biasa disebut Domain Controller dan File Server berbasis Linux memiliki keunggulan-keunggulan sebagai berikut:

1. Free & Open Source
Sebagian besar distro Linux bisa didapatkan dengan biaya relatif murah hingga tanpa biaya. Jika kita ingin full support, kita bisa memilih distro komersil. Kebebasan untuk memilih ditangan kita.

2. Bebas Virus
Meski selama ini selalu ada berita soal Virus yang mengancam Linux, pengalaman pribadi penulis menunjukkan bahwa Linux cukup imun terhadap virus. Bukan sekali dua kali penulis membersihkan USB Flash Disk atau Harddisk bervirus menggunakan sistem Linux tanpa khawatir terinfeksi.

3. Kemudahan Update dan Perubahan Opsi
Distro Linux generasi sekarang sebagian besar dilengkapi dengan update otomatis kepada sumber-sumber penyedianya. Kita tidak perlu khawatir mencari-cari file yang dibutuhkan. Perubahan opsi terhadap konfigurasi server bisa dilakukan dengan mudah, baik menggunakan aplikasi setup berbasis grafis, web maupun konsole.

4. Akses Remote
Server berbasis Linux bisa dikonfigurasi dengan mudah menggunakan akses remote tanpa harus terbebani oleh pemborosan bandwidth seperti halnya akses remote desktop biasa. Akses web menggunakan webmin atau akses konsole menggunakan SSH akan semakin memudahkan maintenance Server Linux. Kapan lagi kita bisa maintenance server sambil memancing dan tidur-tiduran di sawah .
Artikel setup Primary Domain Controller ini merupakan bentuk offline dari artikel yang sama yang saya tulis pada website Migrasi Windows-Linux. Bagi rekan-rekan yang ingin mengakses sumber online, bisa mengakses artikel “Samba Server Sebagai Primary Domain Controller”, sedangkan bagi yang ingin membaca secara offline, bisa mendownloadnya pada attachment yang disertakan.
Download Tulisan Lengkap: masim-vavai-pdc-suse.zip
Read more >>

Virtualization di Linux


Saya ingin mengulas sedikit mengenai Virtualization di Linux, dimana saya telah membahas sedikit mengenai Tend Virtualization yang sedang hangat saat ini dikalangan IT.
Untuk mendukung Virtualization ini tentunya digunakan software khusus untuk membuat virtualisasi dari suatu Operating System (OS). Selain software tentunya Hardware juga harus mendukung Virtualization secara penuh, terutama processor.
Software untuk Virtualization di Linux cukup banyak pilihannya, dari yang berbayar sampai yang gratisan. Umumnya software tersebut juga ada di platform OS Windows.
Untuk yang berbayar ada VMware yang sudah terkenal sejak dulu untuk melakukan virtualisasi yang sangat baik. Tersedia untuk flatform OS Windows dan Linux. Saat ini juga telah mensupport processor yang mendukung virtualization, baik dari yang berbasis Intel maupun AMD.
Untuk software virtualisasi yang gratis atau free, ada VirtualBox dan Qemu. Kedua-duanya juga sudah mendukung virtualization pada processor saat ini dan tentunya dapat dikonsumsi gratis oleh siapa saja. Feature yang ditawarkan juga tidak kalah dengan yang berbayar. Terutama VirtualBox yang sangat mirip GUI interfacenya dengan VMware. Untuk Qemu memerlukan instalasi kernel khusus untuk mengaktifkan mode virtualisasi full pada processor yang digunakan, sementara VirtualBox tidak memerlukannya, karena by default sudah mensupport processor yang mendukung virtualization.
Untuk memilih processor yang sudah mensupport virtualization, anda bisa mengeceknya di web masing-masing. Untuk intel bisa di cek disini, dan AMD dapat juga mengecek di websitenya disini. Untuk Intel biasanya dikenal dengan teknologi Intel VT-x dan AMD biasanya disebut teknologi AMD-V.

Teknologi pada processor ini memungkinkan Operating System (OS) yang kita emulasi atau yang ada didalam virtualisasi dapat menggunakan atau mengakses processor secara langsung seperti menggunakan OS langsung tanpa di virtualisasi. Sehingga OS yang di virtualisasi akan memiliki kecepatan,feature dan kompatibilitas terhadap processor yang sama jika menggunakan OS yang tidak dalam software virtualisasi.

Di Ubuntu (karena saya menggunakan Ubuntu) dapat mendownload Qemu dari Synaptic maupun dari console termoinal yang ada :
$ sudo apt-get install qemu qemu-launcher qtemu
Untuk VirtualBox silahkan download disini
Untuk di Linux saya menyarankan untuk menggunakan VirtualBox, karena tidak memerlukan kernel khusus untuk mengaktifkan feature dari processor yang mendukung virtualization dan juga tampilan GUI nya akan sangat familiar bagi pengguna VMware sebelumnya.

Jadi kita tidak perlu khawatir menggunakan server berbasis Linux jika ingin menggunakan teknologi virtualization yang sedang trend saat ini. Walaupun di Linux memerlukan software tambahan lagi. Untuk server yang menggunakan Ubuntu silahkan untuk menggunakan Ubuntu Server atau kernel server, karena tentunya kita membutuhkan Memory RAM yang cukup besar jika akan melakukan virtualization ini.

Dony Ramansyah
site : http://dony-ramansyah.bravehost.com
blog : dony-ramansyah.blogspot.com
email : dony.ramansyah[at]gmail.com
Registered linux user : ID 400171
Read more >>

Mengecilkan File Presentasi di Open Office/Oracle Presentation

Sebelumnya, penulis tergerak membuat artikel ini berdasarkan artikel serupa di sini dan di sini. Penulis sudah pernah mencoba dan ingin sharing pengetahuan dan pengalaman juga dengan pembaca lainnya. Sekaligus penulis mencoba memberikan gambaran bahwa sebagai pengguna komputer, kita tidak boleh terikat dengan perangkat lunak closed source proprietary jika begitu banyak solusi perangkat lunak open source (GNU/Linux dan FOSS atau Free and Open Source Software) yang tersedia, dengan kualitas yang sama bahkan jauh lebih bagus.

GNU/Linux menyediakan banyak solusi untuk kita asalkan kita mau mencoba atau searching (Googling). Salah satunya pada saat melakukan presentasi menggunakan Open Office Presentation (atau kini setelah diakuisisi oleh Oracle disebut Oracle Presentation). Open Office bisa diunduh di situsnya. Aplikasi ini juga sudah tersedia secara default di setiap distro GNU/Linux.

Terkadang, file presentasi terasa berat bagi komputer kita (entah karena gambar penyerta yang berat atau animasi lainnya). Untuk hal ini, menulis memberikan 2 buah solusi untuk anda :
1. Ubah file presentasi anda menjadi file PDF. Tidak perlu repot, secara default, Open Office sudah menyediakan converter ini. Penulis paling sering menggunakan cara ini.
2. Gunakan ekstensi Presentation Minimizer. Anda bisa mengunduhnya di sini. Sesuaikan dengan OS anda maupun jenis mesin anda. Solusi kedua ini penulis peroleh dari sini.

Bagi anda yang belum pernah mencoba Open Office, silahkan mengunduh secara gratis di sini. Panduan instalasi bisa anda unduh di sini. Untuk panduan penggunaan Open Office berbahasa Indonesia, silahkan mengunduh di sini atau di sini.

Free Software yang dimaksudkan di GNU/Linux tidak selalu berarti free of charge alias gratis, namun freedom alias kemerdekaan terhadap kode di dalamnya, bedakanlah dengan freeware.

Dan perangkat lunak open source juga bisa dijalankan tidak saja di platform Linux namun juga di OS lainnya.  Jadi, tidak ada alasan untuk tetap ngotot menggunakan perangkat lunak bajakan maupun membeli perangkat lunak closed source proprietary jika di dunia open source sudah tersedia solusi yang baik dengan kualitas sama, dengan harga murah bahkan gratis, dan ketersediaan source code di dalamnya.
Read more >>